Selasa, 09 Oktober 2018

Kiat Sukses Menulis Karya Ilmiah Bebas Plagiasi

KIAT SUKSES MENULIS ARTIKEL ILMIAH BEBAS PLAGIASI

1. Menyiapkan Referensi
Hal pertama yang harus dilakukan saat akan membuat karya ilmiah adalah harus menyiapkan referensi terlebih dahulu. Referensi adalah suatu rujukan untuk menginformasikan yang dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan informasi tentang buku atau terhadap sumber yang terkait. Untuk menulis suatu karya ilmiah dengan menggunakan referensi akan lebih memudahkan  dalam pembuatannya.
2. Menulis Kutipan Langsung dan Tidak Langsung
Dengan melakukan penulisan langsung dan tidak langsung ini harus dilakukan dengan baik dan benar agar tidak disebut plagiat. Kutipan Tidak Langsung.
Merupakan salinan yang persis sama dengan sumbernya tanpa penambahan (Widjono, 2005: 63). Menurut Widjono (2005:64) “Kutipan Langsung adalah Mengambil ide dari suatu sumber dan menuliskannya sendiri dengan kalimat atau bahasa sendiri”.
Contoh Kutipan Tidak Langsung
Menurut Selye (1976) “Stres adalah segala situasi dimana tuntunan non-spesifik yang mengharuskan seorang individu untuk merespon atau melakukan tindakan”.
Contoh Kutipan Langsung
Selye (1976) menyatakan Stres adalah adanya situasi dimana tuntutan yang tidak spesifik yang mengharuskan individu untuk merespon atau juga dengan melakukan tindakan.
3. Membuat Daftar Rujukan
Dengan adanya berbagai sumber yang dapat dimanfaatkan dalam menulis karya ilmiah melalui kutipan, harus mencantumkan sumber kutipan tersebut dengan menulis daftar rujukan (Widyartono, 2018:67-68). Daftar rujukan bisa diambil dari sumber media cetak ataupun media elektronik. Berikut adalah salah satu contoh menulis daftar rujukan dari media cetak dan media elektronik
Contoh Daftar Rujukan Melalui Buku
Widyartono D. 2018. Panduan Menulis Karya Ilmiah Di Perguruan Tinggi. Malang: Universitas Negeri Malang.
Contoh Daftar Rujukan Melalui Internet
Abi. 2017. Ansietas adalah, (alamipedia.com/ansietas-adalah-definisi-gejala-tingkat-terapi-non-farmakologi/), diakses pada tanggal 30 Juli 2017.
4. Mencegah Plagiasi
Plagiasi merupakan suatu tindakan menjiplak, mencuri atau mengambil ide dari hasil karya atau dari tulisan orang lain, baik menyeluruh, sebagian besar maupun kecil, untuk menjadi suatu ide atau suatu karya tulisan sendiri tanpa adanya penyebutan nama penulis dan sumber aslinya (Andreas Lako, 2015).

Jenis Plagiatrisme
Menurut Andreas Lako (2015) “Berdasarkan sejumlah pola atau modus operansi tersebut, paling sedikit ada empat jenis plagiarisme, yaitu plagiat total, plagiarism total, plagiarisme parsial, auto-plagiasi, plagiarisme antarbahasa”.
Merujuk dari hasil penelitian Hidayati (dalam Ulum, 2014), faktor penyebab adanya plagiarisme di kalangan mahasiswa adalah Pertama, lemahnya kontrol dan tidak adanya sanksi serius terhadap tindakan plagiasi tersebut. Kedua, adanya budaya yang instan dalam penulisan karya ilmiah yang masih membudaya dikalangan mahasiswa. Ketiga, adanya perilaku plagiarisme di internet yang terjadi pada mahasiswa tidak selalu dipengaruhi dengan pemilihan yang rasional.

Menurut Hari Santoso, Berikut merupakan beberapa langkah untuk mencegah plagiasi dalam menulis sebuah karya ilmiah di lingkungan mahasiswa:
1. Dengan menumbuhkan integritas kepribadian mahasiswa
2. Melakukan pengawasan terhadap setiap karya ilmiah mahasiswa
3. Melakukan pembinaan dan bimbingan dalam penulisan karya ilmiah bagi para mahasiswa





     Daftar Rujukan


1. Lako, A. (2012). Plagiarisme Akademik. Semarang. Harian Jawa Pos Radar Semarang. Dalam http://storage. kopertis6. or. id/ARTIKEL% 20PLAGIARISME% 20AKADEMIK1. pdf.
2. Pengertian Para Ahli. 2016. Pengertian Referensi (www.pengertianmenurutparaahli.com/pengertian-referensi/) diakses pada tahun 2016.
3. Santoso, H., & Sos, S. (2015). Pencegahan dan Penanggulangan Plagiarisme dalam Penulisan Karya Ilmiah di Lingkungan Perpustakaan Perguruan Tinggi. Hari Santoso, S. Sos, 1, 1-23.
4. Sedana N.A. 2012. Konsep Stress Dan Adaptasi (adisena.blogspot.com/2012/03/konsep-stress-dan-adaptasi.html), diakses pada tanggal 10 Maret 2012.
5. Widyartono D. 2018. Panduan Menulis Karya Ilmiah Di Perguruan Tinggi. Malang: Universitas Negeri Malang

Keperawatan Kesehatan Jiwa

Keperawatan Kesehatan Jiwa

Tyithania Agustria Manda
S,Tr Keperawatan Lawang Tk 1
tyithaniaam@gmail.com


ABSTRAK
Keperawatan jiwa adalah pelayanan keperawatan yang didasarkan pada ilmu perilaku. Disini akan membahas beberapa gangguan pada jiwa seperti stress, halusinasi, dan ansietas.
Salah satu cara untuk mencapai jiwa yang sehat yaitu dengan penilaian diri, bagaimana seseorang melihat dirinya dengan cara berpikir, cara berperan, dan cara bertindak. Apabila seseorang mengalami perubahan maka akan terjadi reaksi baik secara jasmani maupun kejiwaan yang disebut dengan stress. Gangguan jiwa berat (psikosis) salah satunya adalah skizoprenia. Dari seluruh klien skizofrenia, 70% diantaranya mengalami halusinasi. Halusinasi merupakan gangguan persepsi dimana klien mempersepsikan sesuatu yang sebenamya tidak terjadi. Ansietas adalah rasa takut yang tidak jelas dan sertai oleh situasi yang tidak jelas. Ada beberapa jenis ansietas dan gejala-gejalanya serta cara untuk mengatasi anseitas tersebut.

KATA KUNCI : Keperawatan Kesehatan Jiwa
LATAR BELAKANG
Keperawatan jiwa adalah pelayanan keperawatan yang didasarkan pada ilmu perilaku. Dari beberapa uraian menurut para ahli kesehatan jiwa dapat disimpulkan merupakan kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, dan sosial individu secara optimal, dan selaras dengan perkembangan dengan orang lain. Disini akan membahas beberapa gangguan pada jiwa seperti stress, halusinasi, dan ansietas.
Salah satu cara untuk mencapai jiwa yang sehat yaitu dengan penilaian diri, bagaimana seseorang melihat dirinya dengan cara berpikir, cara berperan, dan cara bertindak. Apabila seseorang mengalami perubahan maka akan terjadi reaksi baik secara jasmani maupun kejiwaan yang disebut dengan stress. Menurut Hebb ada beberapa tipe stress yaitu distress dan eustress. Ada tiga sumber utama yang dapat menyebabkan timbulnya stress yaitu: Faktor Lingkungan, Faktor Organisasi, Faktor Individu.
Gangguan jiwa berat (psikosis) salah satunya adalah skizoprenia. Dari seluruh klien skizofrenia, 70% diantaranya mengalami halusinasi. Halusinasi merupakan gangguan persepsi dimana klien mempersepsikan sesuatu yang sebenamya tidak terjadi. Halusinasi yang tidak dapat pengobatan maupun perawatan, lebih lanjut dapat menyebabkan perubahan perilaku-perilaku seperti agresi, bunuh diri, menarik diri dari lingkungan dan dapat membahayakan diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Ansietas adalah rasa takut yang tidak jelas dan sertai oleh situasi yang tidak jelas. Ada beberapa jenis ansietas dan gejala-gejalanya serta cara untuk mengatasi anseitas tersebut.

PEMBAHASAN
Keperawatan jiwa adalah pelayanan keperawatan yang didasarkan pada ilmu perilaku. Undang-undang ( Nomor 23 Tahun 1992) menyatakan “yang dimaksud dengan "Kesehatan" adalah: Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis". Menurut American Nurses Associations (ANA) Keperawatan jiwa adalah area khusus didalam praktek keperawatan yang menggunakan ilmu tingkah laku pada manusia sebagai dasar serta menggunakan diri sendiri secara teraupetik untuk meningkatkan, mempertahankan, memulihkan kesehatan mental pada klien dan kesehatan mental masyarakat dimana klien itu berada. “Kesehatan Jiwa bukan hanya suatu keadaan tindak gangguan jiwa, melainkan juga mengandung berbagai karakteristik dengan perawatan langsung, komunikasi dan management, bersifat positif yang menggambarkan keselarasan dan keseimbangan kejiwaan yang mencerminkan kedewasaan pada kepribadian dengan yang bersangkutan”. (WHO)
Jadi dapat disimpulkan bahwa kesehatan jiwa merupakan kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, dan sosial individu secara optimal, dan selaras dengan perkembangan dengan orang lain.


STRESS
Salah satu cara untuk mencapai jiwa yang sehat yaitu dengan penilaian diri, bagaimana seseorang melihat dirinya dengan cara berpikir, cara berperan, dan cara bertindak. Apabila seseorang mengalami perubahan maka akan terjadi reaksi baik secara jasmani maupun kejiwaan yang disebut dengan stress.
“Stres adalah segala situasi di mana tuntunan non-spesifik yang mengharuskan seorang individu untuk merespon atau melakukan tindakan” ( Selye, 1976). Istilah stres yang digunakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari umumnya mengacu pada perasaan atau reaksi negatif terhadap suatu peristiwa. Sebenarnya stres bukan hanya sesuatu hal yang ”buruk” karena hal yang ”baik” pun dapat merupakan stres. Ada beberapa tipe stres, Hebb (dalam Sarafino, 1997) mempergunakan istilah yang dapat membedakan tipe stres, yaitu :
a) Distress, stress berbahaya yang dapat merusak keseimbangan fisik psikis atau social individu.
b) Eustress, stress yang menguntungkan dan konstruktif bagi kesejahteraan
individ itu sendiri.
Anthonovsky (dalam Sherridan dan Radhmacher,1992) menambahkan bahwa stres juga  dapat bersifat netral yaitu tidak memberikan efek buruk maupun baik.  Menurut McGrath (Weinberg dan Gould 2003:81)”stress akan muncul pada individu bila ada ketidakseimbangan atau kegagalan individu dalam memenuhi kebutuhannya baik yang bersifat jasmani maupun rohani”. Pada tahap yang berat stres dapat menimbulkan beberapa penyakit fisik pada individu yang dalam keadaan stres, misalnya tekanan darah tinggi, asma berat, serangan jantung dan penyakit-penyakit lain). Hans Selye(1978) menyatakan bahwa tak seorang pun dapat menghindari stres karena untuk menghilangkan stress berarti akan menghancurkan hidupnya sendiri.  Vincent Cornelli, (Mustamir Pedak, 2007) menyatakan definisi stres yang sangat beragam menunjukan bahwa stres bukanlah suatu hal yang sederhana. Salah satu definisinya adalah stres adalah gangguan pada tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh adanya perubahan dan tuntutan di kehidupan”. Menurut Robbins (2001:565-567) ada tiga sumber utama yang dapat menyebabkan timbulnya stress yaitu: Faktor Lingkungan, Faktor Organisasi,  Faktor Individu.
Dalam unsur motivasi, jika peristiwa orang mendatangkan stress mengancam cita-cita hidup maka akan mengalami stress berat. Sedangkan faktor situasi, yaitu meliputi peristiwa atau hal yang mengandung tuntutan berat atau mendesak. Kemudian bila hal itu berkaitan dengan perubahan hidup seseorang, hal itu dianggap aneh dan tidak wajar. Selain itu, adanya ketidakjelasan dalam situasi dalam kehidupan seseorang. Hal yang tidak diinginkan akan mendatangkan stres bagi orang yang mengalaminya (Hurlock, 1994)
 Waitz, Stromme, Railo(1983: 52-71) menyatakan bahwa gejala secara fisik pada individu yang mengalami stress ditandai oleh: gangguan jantung, tekanan darah tinggi, ketegangan pada otot, sakit kepala, telapak tangan atau kaki terasa dingin, pernapasan senggal-senggal, kepala terasa pusing, perut mual, gangguan pencernaan, susah tidur, bagi wanita akan mengalami gangguan menstruasi dan seksual(impotensi).
Waitz, Stromme, Railo(1983:2) menyatakan bahwa pada umumnya, individu yang mengalami ketegangan akan mengalami kesulitan dalam memanajemen kehidupannya, karena stress akan memunculkan kecemasan (anxiety) dan system syaraf menjadi kurang terkendali. Pusat syaraf otak akan mengaktifkan saraf simpatis, sehingga akan mendorong sekresi hormone adrenalin dan kortisol yang akhirnya akan memobilisir hormon-hormon lainnya. Individu yang berada dalam kondisi stress, kondisi fisiologis individu tersebut akan mendorong pelepasan gula dari hati dan pemecahan lemak tubuh serta bertambahnya kandungan lemak dalam darah individu.
HALUSINASI
Gangguan jiwa berat (psikosis) salah satunya adalah skizoprenia. Dari seluruh klien
skizofrenia, 70% diantaranya mengalami halusinasi. “Halusinasi merupakan gangguan persepsi dimana klien mempersepsikan sesuatu yang sebenamya tidak terjadi”. (Maramis, 2004)
Menurut Stuart dan Sundeen (1995), “70% halusinasi adalah halusinasi auditorik, 20% halusinasi visual, 10% halusinasi pengecapan dan penciuman”.
Halusinasi yang tidak dapat pengobatan maupun perawatan, lebih lanjut dapat menyebabkan perubahan perilaku-perilaku seperti agresi, bunuh diri, menarik diri dari lingkungan dan dapat membahayakan diri sendiri, orang lain dan lingkungan (Stuart & Sundeen, 1995).
Noviandi,(2008) menyatakan bahwa Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan klien dalam mengontrol halusinasinya adalah dengan cara menyikapi respon klien terhadap halusinasi. kejujuran dan memberikan informasi kepribadian klien pengalaman serta kemampuan mengingat.
Karakteristik responden mayoritas berumur antara 25-45 tahun sebanyak 20 orang (58,8%), hal ini menggambarkan bahwa klien berada pada perkembangan usia dewasa muda dan dewasa menengah. Pada tingkat usia dewasa, peran dan tanggung jawab semakin bertambah besar. Individu tak lagi harus bergantung secara ekonomis, sosiologis ataupun psikologis kepada orang tua. Individu berusaha untuk membuktikan dirinya sebagai seorang pribadi dewasa yang mandiri. Segala urusan ataupun masalah yang dialami dalam hidupnya sedapat mungkin akan ditangani sendiri tanpa bantuan orang lain, temiasuk orang tua (Santrock, 1999).
Papalia, Old. Feldman(1998) menyatakan bahwa berbagai pengalaman baik yang berhasil maupun yang gagal dalam menghadapi suatu masalah akan menjadikan pelajaran yang berharga guna membentuk seorang pribadi yang matang, tangguh, dan bertanggung jawab terhadap masa depannya kelak.
Hasil penelitian Syamsul (2008) menyatakan mayoritas klien yang di rawat di Rumah Sakit Jiwa adalah laki-laki. Laki-laki cenderung sering mengalami perubahan peran dan penurunan interaksi social serta kehilangan pekerjaan hal ini yang sering menyebabkan laki-laki lebih rentan terhadap masalah kesehatan mental, termasuk depresi. (Soejono, Setiati, Wiwie, 2000)
ANSIETAS
Ansietas berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Videbeck (2008) menyatakan bahwa Ansietas adalah rasa takut yang tidak jelas dan sertai oleh situasi yang tidak jelas.
Jenis ansietas dan gejala pada umumnya:
o Fobia, Perasaan takut yang berlebih terhadap objek atau situasi aktivitas tertentu
o Gangguan panic, kondisi yang ditandai dengan adanya timbul perasaan takut.
o Gangguan obsesif-kompulsif, kondisi yang ditandai dengan tindakan berulang-ulang pada kejadian yang sama sebagai perwujudan ketidakpuasan.
o berprasangka negative.
o Gangguan kecemasan pemisahan, takut berada jauh dari rumah atau seseorang yang Gangguan kecemasan social, ketakutan akan nteraksi dengan orang lain sehingga terus dicintainya.
o Hypochondriasis, kecemasan atau ketakutan yang berlebih yang membuat penderita merasa mempunyai penyakit yang serius walaupun hasil pemeriksaan menunjukkan negative.
o Gangguan stress pasca trauma, gangguan kecemasan yang dipicu oleh adanya peristiwa tragis yang menimpanya di masa lalu.
Menurut Paplau ada empat tingkat kecemasan, yaitu ringan, berat, sedang dan panic.
o Cemas ringan, yaitu yang berhubungan dengan ketegangan dengan peristiwa sehari-harinya.
o Cemas sedang, yaitu individu lebih terfokus pada hal-hal yang dianggap penting saat itu dan mengesampingkan hal lain.
o Cemas berat, yaitu individu hanya memikirkan hal yang kecil saja dan mengabaikan hal-hal yang penting.
o Panik, yaitu individu tidak dapat lagi mengendalikan diri dan tidak dapat melakukan apa-apa , walaupun sudah diberikan pengarahan.

Ada beberapa teori yang mengemukakan penyebab fobia, antara lain :
1. Teori Psikodinamika. Menurut Freud mengatakan bahwa fobia adalah sinyal bahaya bahwa impuls-impuls yang mengancam bersifat agresi mendekat ke taraf sadara.
2. Teori Behavioral. Teori ini berfokuskan kepada peran pembelajaran sebagai cara berkembangnya fobia itu sendiri.
3. Teori Kognitif. Teori ini secara khusus mengatakan bahwa proses berfikir manusia dapat berperan sebagai diathesis dan bagaimana pikiran tentang fobia tersebut menetap.

Mengatasi gejala ansietas yaitu dengan cara:
1. Mencoba untuk menarik napas dalam dan perlahan saat terjadi serangan
2. Ingatkan pada diri bahwa anda tidak sedang dalam keadaan berbahaya
3. Mencoba untuk membiasakan diri untuk menghadapi hal-hal yang menjadi sumber ketakutan pada diri sehingga dapat mengontrol rasa takut
4. Carilah hobi yang disukai sehingga dapat melupakan kecemasan pada diri.

KESIMPULAN
Kesehatan jiwa dapat disimpulkan merupakan kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, dan sosial individu secara optimal, dan selaras dengan perkembangan dengan orang lain. Salah satu cara untuk mencapai jiwa yang sehat yaitu dengan penilaian diri, bagaimana seseorang melihat dirinya dengan cara berpikir, cara berperan, dan cara bertindak.




DAFTAR RUJUKAN

1. A.S Nyoman 2012. Konsep Stress dan Adaptasi(http://adisedana.blogspot.com/2012/03/konsep-stress-dan-adaptasi.html?m=1) diakses pada tanggal 10 Maret 2012.
2. Abi 2017. Ansietas adalah(alamipedia.com/ansietas-adalah-definisi-gejala-tingkat-terapi-non-farmakologi/)diakses pada tanggal 30 Juli 2017.
3. American Nurses Association: Statement on psychiatric-mental-health clinical nursing practice and standards of psychiatric-mental-health clinical nursing practice, Washington, DC, 1994. The Association dalam “Buku Saku Keperawatan Jiwa (3)  Buku Kedokteran EGC: 3: 1995.
4. Arief Muhamad. Ansietas: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan.(https://mediskus.com/ansietas)
5. Arlina, Tamar, Indra “Bersahabat Dengan Stress” dalam PDF
6. Belibis Kuning “Kesehatan Jiwa” (https://azurama.wordpress.com/all-about-nurse/keperawatan-jiwa/kesehatan-jiwa/)
7. Digili Unimus dalam PDF(digili.unimus.ac.id/download.php?id=14985)
8. Haryani, Titik. Hubungan antara Beban Kerja dengan Stress Kerja pada Perawat di Rumah Sakit Islam Surakarta. Diss. Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2008.( http://eprints.ums.ac.id/2705/)
9. Ningsih Mulyati. Ansietas (https//www.scribd.com/document/86576605/ansietas)
10. Putri S.D 2015. Mengatasi Gejala Ansietas. (https://m.klikdokter.com/tanya-dokter/read/2744595/mengatasi-gejala-ansietas)diakses pada 15 Januari 2015.
11. Stuart, Gail W., and Sandra J. Sundeen. "Buku saku keperawatan jiwa edisi 3." Jakarta: EGC (2007:175).
12. Stuart, Gail W., and Sandra J. Sundeen. "Buku saku keperawatan jiwa." Jakarta: EGC (2007:207).
13. Undang-undang ( Nomor 23 Tahun 1992)
14. Wir 2009. Keperawatan Kesehatan Jiwa(wir-nursing.blogspot.com/2009/11/ansietas-atau-kecemasan.html?m=1)
15. Yusuf, A., Fitryasari, P. K., & Nihayati, H. E. (2015). Buku ajar keperawatan kesehatan jiwa.(http://repository.unair.ac.id/id/eprint/30605)

Bahasa Imdonesia Di Era Sekarang

BAHASA INDONESIA DI ERA SEKARANG
Tyithania Agustria Manda
S.Tr Keperawatan Lawang


Bangsa Indonesia terdiri dari bermacam-macam agama, bahasa, budaya, adat istiadat, dll. Nah, pada kali ini saya akan membahas mengenai bahasa. Dari berbagai daerah di Indonesia, tentu saja mempunyai Bahasa daerahnya masing-masing di setiap daerah tersebut. Bahasa daerah merupakan bahasa ibu dan bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional dan bahasa kesatuan negara Indonesia.
Namun, di era modern sekarang ini yang semakin berkembang dengan ilmu pengetahuan dan teknonogi, banyak generasi muda yang menggunakan bahasa asing untuk berkomunikasi, misalnya dalam kehidupan di sekolah, perkuliahan, dunia perhiburan dan juga media sosial. Banyak sekali generasi muda sekarang menggunakan Bahasa asing di media soaialnya dan juga mendengarkan lagu-lagu dari daerah luar. Para generasi muda sekarang juga sering menggunakan Bahasa campuran antara Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris lebih khususnya. Muungkin dengan menggunakan bahasa campuran tersebut mereka akan menjadi generasi yang gaul atau sering disebuat dengan kekinian di kalangan generasi muda sekarang.
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan komunikasi, seharusnya generasi muda semakin cinta akan Bahasa Indonesia tercinta ini, bukan dengan menggunakan bahasa asing yang bukan bahasa di negeri kita ini. Kita sebagai generasi muda tidak boleh lupa bahwa kita lahir dan besar di tanah air Indonesia tercinta ini.
Bahasa Indonesia merupakan kebudayaan, jadi para generasi muda harus melestarikan bahasa Indonesia dan dengan bangga menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar untuk berkomunikasi secara efektif dan efisien. Dengan menggunakan Bahasa Indonesia, generasi muda dapat menghargai Bahasa Indonesia sebagai Bahasa persatuan dan kesatuan. Generasi muda harus bangga dengan Bahasa Indonesia karena Bahasa Indonesia menjadi identitas dari Bangsa Indonesia. Dengan berbahasa Indonesia kita dapat menumbuhkan karakter di dalam diri kita. Semoga para generasi muda sekarang senantiasa bangga dan cinta terhadap Bahasa Indonesia serta menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari.

Kiat Sukses Menulis Karya Ilmiah Bebas Plagiasi

KIAT SUKSES MENULIS ARTIKEL ILMIAH BEBAS PLAGIASI 1. Menyiapkan Referensi Hal pertama yang harus dilakukan saat akan membuat karya ilmia...